Olahraga, Perdamaian, dan Harapan Pertumbuhan Ekonomi: Refleksi dari FIFA World Cup 2026

Olahraga 22 Jun 2026 19:52 5 min read 116 views By Setiawan Budi

Share berita ini

Olahraga, Perdamaian, dan Harapan Pertumbuhan Ekonomi: Refleksi dari FIFA World Cup 2026
Olahraga, Perdamaian, dan Harapan Pertumbuhan Ekonomi: Refleksi dari FIFA World Cup 2026

Olahraga, Perdamaian, dan Harapan Pertumbuhan Ekonomi: Refleksi dari FIFA World Cup 2026

 Oleh: Setiawan Budi (Dosen Ekonomi Syariah, Institut Nurul Islam Mojokerto)

 Ketika peluit pertandingan FIFA World Cup 2026 dibunyikan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, perhatian dunia seolah teralihkan sejenak dari berbagai ketegangan global yang masih berlangsung. Di tengah konflik geopolitik, perang dagang, rivalitas kekuatan besar, hingga ancaman perlambatan ekonomi dunia, miliaran pasang mata tertuju pada satu arena yang sama yaitu sepak bola. Piala Dunia bukan sekadar kompetisi olahraga. Ia telah berkembang menjadi fenomena sosial, politik, budaya, dan ekonomi yang melampaui batas-batas negara. Dalam beberapa dekade terakhir, FIFA World Cup menjadi salah satu sedikit peristiwa global yang mampu mempertemukan masyarakat dunia dalam ruang yang relatif damai. Di saat hubungan antarnegara sering diwarnai persaingan politik dan ekonomi, sepak bola menghadirkan bentuk kompetisi yang berbeda: keras di lapangan, tetapi tetap berada dalam koridor sportivitas. Momentum Piala Dunia 2026 menjadi semakin relevan karena berlangsung di tengah ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi stabilitas ekonomi global. Konflik bersenjata di berbagai kawasan, meningkatnya proteksionisme perdagangan, serta fragmentasi ekonomi dunia telah menciptakan tantangan besar bagi pertumbuhan ekonomi internasional. Dalam situasi seperti ini, Piala Dunia menawarkan pelajaran penting mengenai hubungan antara perdamaian dan kemakmuran. Sepak Bola sebagai Bahasa Universal Perdamaian Dalam perspektif hubungan internasional, olahraga sering dipandang sebagai instrumen soft power. Konsep yang diperkenalkan Joseph Nye ini menjelaskan bagaimana suatu negara dapat memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan kerja sama, bukan melalui kekuatan militer. Sepak bola merupakan salah satu bentuk soft power yang paling efektif. Tidak banyak aktivitas yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai bangsa, agama, ras, dan ideologi dalam satu ruang emosional yang sama. Ketika tim nasional bertanding, identitas kebangsaan memang menguat, tetapi pada saat yang sama tercipta kesadaran bahwa semua pihak sedang mengikuti aturan yang sama. Piala Dunia memperlihatkan bahwa persaingan tidak selalu harus berujung pada konflik. Negara-negara dapat berkompetisi secara intens tanpa harus mengorbankan perdamaian. Nilai inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan dunia saat ini. Dalam kondisi global yang semakin terpolarisasi, ruang-ruang interaksi yang memperkuat rasa saling menghormati menjadi semakin penting. Memang, sepak bola tidak dapat menghentikan perang. Namun, olahraga mampu membangun jembatan komunikasi, memperkuat diplomasi publik, dan menciptakan simbol persatuan yang sering kali sulit diwujudkan melalui jalur politik formal. Perdamaian sebagai Prasyarat Pertumbuhan Ekonomi Dari sudut pandang ekonomi makro, hubungan antara perdamaian dan pertumbuhan ekonomi bersifat sangat erat. Tidak ada negara yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi tinggi dalam jangka panjang tanpa stabilitas sosial dan politik. Perdamaian menciptakan kepastian. Kepastian mendorong investasi. Investasi menghasilkan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, konflik akan meningkatkan biaya transaksi, menghambat perdagangan, merusak infrastruktur, serta menurunkan kepercayaan investor. Dalam konteks ini, FIFA World Cup menjadi simbol penting bahwa kerja sama antarnegara masih mungkin dilakukan meskipun dunia sedang menghadapi berbagai ketegangan. Penyelenggaraan Piala Dunia melibatkan koordinasi lintas negara, mobilitas jutaan orang, serta transaksi ekonomi bernilai miliaran dolar. Semua itu hanya dapat berjalan apabila terdapat tingkat stabilitas dan kepercayaan tertentu di antara para pelaku global. Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan secara bersama oleh tiga negara juga menunjukkan model kolaborasi internasional yang menarik. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memiliki karakter politik, ekonomi, dan sosial yang berbeda. Namun, ketiganya mampu bekerja sama untuk menyelenggarakan perhelatan olahraga terbesar di dunia. Kolaborasi semacam ini memberikan pesan bahwa kepentingan bersama dapat mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada. Dampak Ekonomi yang Melampaui Stadion Secara ekonomi, dampak Piala Dunia tidak hanya dirasakan oleh negara tuan rumah. Aktivitas ekonomi yang tercipta menyebar ke berbagai sektor dan negara. Industri pariwisata memperoleh manfaat dari meningkatnya mobilitas manusia. Sektor transportasi mengalami lonjakan permintaan. Industri perhotelan, restoran, perdagangan, media, dan ekonomi kreatif juga ikut berkembang. Bahkan negara-negara yang tidak menjadi tuan rumah tetap memperoleh manfaat melalui peningkatan aktivitas perdagangan dan konsumsi global. Lebih jauh lagi, Piala Dunia menunjukkan bagaimana ekonomi modern semakin bertumpu pada industri pengalaman (experience economy). Nilai ekonomi tidak lagi hanya berasal dari produksi barang, tetapi juga dari pengalaman, hiburan, dan keterlibatan emosional masyarakat. Fenomena ini penting bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di era ekonomi digital, peluang pertumbuhan tidak hanya terletak pada sektor manufaktur atau sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan menciptakan nilai tambah melalui industri kreatif, olahraga, pariwisata, dan ekonomi berbasis komunitas. Pelajaran bagi Indonesia Bagi Indonesia, FIFA World Cup 2026 seharusnya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga bahan refleksi pembangunan. Pertama, Indonesia perlu terus memperkuat stabilitas sosial dan politik sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Tidak ada investasi yang akan tumbuh secara berkelanjutan tanpa kepastian dan keamanan. Kedua, pembangunan olahraga perlu dipandang sebagai investasi sosial dan ekonomi, bukan sekadar pengeluaran. Olahraga memiliki kemampuan membangun modal sosial, memperkuat identitas nasional, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi. Ketiga, Indonesia perlu memanfaatkan kekuatan budaya dan masyarakatnya sebagai instrumen soft power. Di era globalisasi, pengaruh suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga oleh kemampuan membangun citra positif di tingkat internasional. Menjaga Harapan di Tengah Ketidakpastian Pada akhirnya, FIFA World Cup 2026 mengingatkan kita bahwa dunia masih memiliki ruang untuk bersatu. Di tengah berbagai konflik, perpecahan, dan ketidakpastian ekonomi, miliaran manusia tetap dapat berbagi kegembiraan yang sama melalui sepak bola. Memang, Piala Dunia bukan solusi bagi seluruh persoalan global. Namun, ia menawarkan pesan penting bahwa kompetisi tidak harus melahirkan permusuhan dan perbedaan tidak harus berujung pada konflik. Dari stadion-stadion yang dipenuhi sorak sorai penonton, dunia belajar bahwa perdamaian bukan hanya cita-cita moral, melainkan juga fondasi utama bagi kemakmuran ekonomi. Karena itu, ketika dunia menyaksikan pertandingan demi pertandingan di FIFA World Cup 2026, yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan hanya trofi juara. Yang juga sedang dipertontonkan adalah harapan bahwa kerja sama, sportivitas, dan perdamaian masih memiliki tempat dalam tata dunia yang semakin kompleks. Dan selama harapan itu tetap hidup, ekonomi global masih memiliki alasan untuk optimistis menatap masa depan.

Redaksi Mojokerto