Rupiah Melemah, Kita Perlu Tenang tapi Waspada

Terkini 15 May 2026 18:59 4 min read 65 views By Mohammad Dendi Abdul Nasir, M.E. adalah seorang dosen di Institut Nurul Islam Mojokerto.

Share berita ini

Rupiah Melemah, Kita Perlu Tenang tapi Waspada
Mohammad Dendi Abdul Nasir, M.E. adalah seorang dosen di Institut Nurul Islam Mojokerto.

Rupiah Melemah, Kita Perlu Tenang tapi Waspada

Rupiah belakangan ini memang belum terlalu bersahabat. Banyak orang langsung khawatir setiap kali nilai tukar bergerak naik turun, padahal pelemahan rupiah sebenarnya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ada faktor global yang ikut menekan, ada juga faktor dari dalam negeri yang membuat rupiah lebih mudah goyah. Dari luar, suasana ekonomi dunia memang belum sepenuhnya tenang. Suku bunga Amerika Serikat masih tinggi, ketegangan geopolitik belum reda, dan dolar tetap dipandang sebagai aset aman. Dalam kondisi seperti ini, wajar bila investor cenderung memilih dolar dibanding mata uang negara berkembang. Akibatnya, rupiah ikut merasakan tekanannya. Sementara itu, dari dalam negeri, tantangannya juga cukup besar. Pada kuartal I, pendapatan negara tercatat naik 10,37 persen year on year menjadi Rp574,9 triliun. Angka ini menunjukkan penerimaan negara masih bergerak positif. Namun, di saat yang sama, belanja negara juga naik lebih cepat, yaitu 31,4 persen year on year menjadi Rp815 triliun. Dari jumlah itu, belanja pemerintah pusat mencapai Rp610 triliun. Kondisi ini membuat anggaran pada kuartal I mencatat defisit Rp240,1 triliun atau setara 0,95 persen dari PDB. Defisit seperti ini bukan berarti bahaya besar, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa pengelolaan fiskal memang perlu terus dijaga dengan cermat. Belanja yang besar tentu punya tujuan baik, terutama untuk menjaga pertumbuhan dan melindungi masyarakat. Hanya saja, ruang fiskal yang sehat akan membuat ekonomi lebih lentur menghadapi tekanan dari luar. Dari sisi perdagangan, situasinya juga belum terlalu kuat. Pertumbuhan ekspor pada kuartal I hanya sekitar 0,90 persen terhadap PDB, sedangkan impor mencapai 7,18 persen. Dalam data perdagangan tertentu, ekspor bahkan hanya sekitar 0,34 sementara impor sudah 10,05. Ini menunjukkan kebutuhan devisa masih tinggi. Ketika kebutuhan dolar besar, sementara pasokannya belum cukup kuat, rupiah pun mudah tertekan. Belanja subsidi energi juga menjadi bagian penting dari cerita ini. Realisasinya disebut mencapai 266 persen atau sekitar Rp118 triliun. Jumlah ini memang besar, tetapi subsidi energi juga punya peran penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan membantu ekonomi tetap bergerak. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar besar kecilnya subsidi, melainkan bagaimana agar subsidi tepat sasaran dan tetap memberi ruang bagi belanja produktif lain. Ada satu hal yang sering menentukan arah pasar, yaitu kepercayaan. Pasar biasanya tenang kalau melihat arah kebijakan yang jelas, disiplin fiskal yang terjaga, dan koordinasi antarlembaga yang berjalan baik. Dalam situasi seperti sekarang, komunikasi publik yang sederhana, jernih, dan konsisten akan sangat membantu. Tidak perlu berlebihan, yang penting menenangkan dan memberi kepastian. Pemerintah juga tentu sudah berada di jalur yang berusaha menjaga stabilitas. Ke depan, ruang perbaikan bisa terus diarahkan pada efisiensi belanja yang kurang produktif, penguatan ekspor, dan upaya menjaga devisa agar tetap aman di dalam negeri. Pendekatan seperti ini akan membuat ekonomi lebih tahan menghadapi tekanan tanpa harus membuat masyarakat merasa khawatir berlebihan. Dari sisi ekonomi syariah, ada beberapa hal yang patut terus diperkuat. Pembiayaan berbasis bagi hasil seperti mudharabah dan musyarakah bisa membantu sektor riil tumbuh lebih sehat. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif juga dapat menjadi penopang sosial yang baik saat ekonomi sedang tertekan. Sementara itu, sukuk bisa terus dimaksimalkan sebagai instrumen pembiayaan yang stabil, adil, dan sesuai kebutuhan pembangunan. Prinsip ekonomi syariah pada dasarnya sederhana, yaitu mendorong aktivitas produktif, menghindari pemborosan serta menjaga keadilan dalam distribusi. Nilai-nilai ini sangat relevan ketika ekonomi sedang menghadapi tekanan. Bukan hanya untuk memperkuat sistem, tetapi juga untuk menjaga rasa aman masyarakat. Jadi, rupiah memang sedang diuji, tetapi situasi ini masih bisa dihadapi dengan tenang. Yang penting, ekonomi dijaga tetap sehat, komunikasi dibuat jelas, dan kebijakan diarahkan ke hal-hal yang produktif. Dengan langkah yang sabar dan konsisten, rupiah punya peluang untuk bergerak lebih stabil, dan masyarakat pun bisa tetap menjalani hari dengan lebih tenang.

Mohammad Dendi Abdul Nasir, M.E. adalah seorang dosen di Institut Nurul Islam Mojokerto.

Redaksi Mojokerto